Monday, January 8, 2018

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persebaran Flora dan Fauna

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Persebaran Flora dan Fauna

Faktor-faktor apa sajakah yang memengaruhi persebaran flora dan fauna?
Sumber: http://maxpixel.freegreatpicture.com/
Animal-World-Butterflies-Poinsettia-Flora-Fauna-55052
Tidak semua bagian di permukaan bumi dapat dihuni oleh makhluk hidup karena setiap jenis makhluk hidup memiliki persyaratan lingkungan hidup masing-masing. Persyaratan lingkungan hidup tersebut berkaitan dengan faktor-faktor yang memengaruhi persebaran makhluk hidup. Faktor-faktor yang memengaruhi persebaran flora dan fauna di antaranya adalah iklim, tanah (edafik), topografi, geologi, oseanik, dan biotik.

1.    Faktor Iklim
Faktor iklim merupakan salah satu faktor dominan yang memengaruhi persebaran flora dan fauna. Elemen iklim yang dapat memengaruhi persebaran flora dan fauna, antara lain suhu, kelembapan udara, angin, sinar matahari, dan curah hujan.

2.    Faktor Tanah (Edafik)
Tanah merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman. Tanah juga menyediakan kebutuhan pokok tanaman, seperti air, udara, dan nutrisi. Faktor tanah yang berpengaruh terhadap persebaran flora dan fauna adalah kesuburan tanah dan jenis tanah. Sementara itu, pengaruh tanah terhadap persebaran fauna merupakan pengaruh secara tidak langsung. Persebaran fauna dipengaruhi oleh persebaran flora karena flora merupakan pembentuk habitat hidup fauna (khususnya fauna darat). Selain itu, flora merupakan sumber makanan bagi sebagian besar fauna.
Tingkat kesuburan tanah berpengaruh terhadap persebaran flora karena kesuburan tanah merupakan persyaratan hidup flora. Di daerah yang memiliki tanah subur akan banyak ditumbuhi flora. Apabila flora banyak tumbuh di daerah tersebut, maka akan banyak fauna yang hidup di sana. Sebaliknya, di daerah yang memiliki tanah tidak subur akan ditumbuhi oleh flora tertentu saja. Oleh karena itu, hanya sedikit fauna yang dapat hidup di sana.
Selain kesuburan, faktor tanah yang dapat memengaruhi persebaran flora dan fauna adalah jenis tanah. Sebagai contoh, jenis tanah regosol cocok sebagai tempat hidup tanaman tembakau, palawija, dan jenis buah-buahan yang tidak banyak membutuhkan air. Jenis tanah latosol cocok untuk tanaman padi, palawija, karet, kelapa, dan kopi. Jenis tanah organosol dapat dibagi menjadi dua, yaitu tanah organosol humus dan tanah organosol gambut. Jenis tanah organosol humus cocok sebagai tempat hidup tanaman padi dan banyak jenis buah-buahan. Jenis tanah organosol gambut cenderung sulit untuk dimanfaatkan karena sifatnya yang sangat asam. Akan tetapi, dewasa ini jenis tanah ini banyak diusahakan untuk tanaman kelapa sawit. Jenis tanah alluvial cocok untuk tanaman padi, tebu, palawija, tembakau, kelapa, dan buah-buahan. Jenis tanah podzolik merah kuning cocok sebagai tempat hidup tanaman kelapa sawit, karet, dan jambu mete. Jenis tanah laterit cocok untuk tanaman kelapa. Jenis tanah litosol cenderung sulit untuk dimanfaatkan, hanya tumbuhan jenis palawija yang banyak ditanam di tempat dengan jenis tanah ini. Jenis tanah rendzina cocok sebagai tempat hidup jenis tanaman keras semusim. Jenis tanah mediteran cocok untuk tanaman jati. Sementara itu, jenis tanah grumosol cocok sebagai tempat hidup tanaman jati dan rumput-rumputan.

3.    Faktor Topografi
Faktor topografi yang dapat memengaruhi persebaran flora dan fauna adalah ketinggian dan kemiringan lereng. Faktor ketinggian dapat berpengaruh karena terjadi perbedaan suhu (pengurangan suhu) seiring dengan pertambahan ketinggian suatu tempat. Sementara itu, faktor kemiringan lereng berpengaruh terhadap persediaan air. Tempat yang miring memiliki persediaan air relatif sedikit karena air cepat bergerak menuruni lereng menuju tempat yang lebih rendah.
Flora maupun fauna akan melakukan adaptasi terhadap faktor topografi. Akan tetapi, tingkat adaptasi flora dan fauna berbeda-beda sehingga terdapat flora dan fauna yang dapat hidup di tempat tertentu serta ada pula yang tidak dapat bertahan hidup. Jenis flora yang banyak terdapat di tempat yang tinggi misalnya tanaman pinus. Seiring dengan pertambahan ketinggian, jenis flora ini akan berkurang. Semakin mendekati puncak gunung jenis tanaman yang ada hanya berupa jenis semak dan rumput-rumputan saja. Pengurangan jumlah makhluk hidup seiring bertambahnya ketinggian tempat juga terjadi pada fauna. Semakin mendekati puncak gunung semakin jarang ditemui fauna dalam wujud yang besar.

4.    Faktor Geologi
Pengaruh faktor geologi terhadap persebaran flora dan fauna dapat terlihat pada masa awal pembentukan benua. Persebaran jenis-jenis flora dan fauna yang ada sekarang merupakan pengaruh dari peristiwa masa lampau. Sebagai contoh, flora dan fauna yang ada di Pulau Sumatra dan Kalimantan merupakan flora dan fauna khas Benua Asia (Asiatis). Pada zaman dahulu kala, Pulau Sumatra dan Kalimantan merupakan bagian dari Benua Asia yang kemudian terpisah. Berbeda halnya dengan flora dan fauna yang ada di Pulau Papua. Flora dan fauna di Pulau Papua merupakan khas Benua Australia (Australis) karena Pulau Papua merupakan bagian dari Benua Australia yang terpisah.

5.    Faktor Oseanik (Laut)
Selain faktor-faktor yang terdapat di darat, terdapat juga faktor dari laut yang dapat memengaruhi persebaran flora dan fauna. Faktor laut yang memengaruhi persebaran flora dan fauna adalah suhu, salinitas (banyaknya kandungan garam), arus, dan kedalaman laut. Suhu dan salinitas laut menjadi faktor syarat hidup flora maupun fauna laut. Jenis flora dan fauna yang ada di laut yang bersuhu hangat berbeda dengan jenis flora dan fauna di laut yang bersuhu dingin. Demikian juga banyak jenis flora dan fauna yang hanya dapat hidup di laut dengan salinitas normal, tetapi ada juga yang dapat beradaptasi terhadap salinitas yang tinggi.
Pengaruh arus terhadap persebaran flora tidak dapat diamati dengan jelas, namun arus sangat memengaruhi persebaran fauna. Fauna jenis ikan tidak hidup secara menetap di suatu tempat tertentu saja, melainkan menyesuaikan diri dengan pergerakan arus laut. Hal tersebut disebabkan karena arus laut membawa plankton yang merupakan makanan ikan.
Kedalaman laut berkaitan erat dengan penyinaran matahari. Sinar matahari tidak dapat menembus laut yang dalam, padahal hampir seluruh jenis flora membutuhkan sinar matahari. Akibatnya, hanya jenis flora tertentu saja yang dapat bertahan hidup di laut dalam. Sementara itu, fauna di laut dalam memiliki organ tubuh yang mampu memancarkan cahaya sebagai bentuk adaptasi akibat tidak adanya sinar matahari.

6.    Faktor Biotik
Faktor biotik yang dapat memengaruhi persebaran flora dan fauna adalah manusia. Aktivitas manusia dapat berdampak positif maupun negatif terhadap kelestarian flora dan fauna. Contoh aktivitas manusia yang berdampak negatif adalah penebangan hutan secara liar (illegal logging) dan perburuan hewan secara sembarangan. Hal tersebut akan menyebabkan berkurangnya jumlah spesies flora maupun fauna secara signifikan, bahkan dapat berakibat kepunahan. Sementara itu, aktivitas manusia yang berdampak positif, misalnya menetapkan cagar alam untuk melestarikan flora dan menetapkan suaka margasatwa untuk melestarikan fauna.

No comments:

Post a Comment

Postingan Terbaru

Klasifikasi Sumber Daya Alam Berdasarkan Sifat dan Proses Pemulihannya

Klasifikasi Sumber Daya Alam  Berdasarkan Sifat dan Proses Pemulihannya Bagaimanakah klasifikasi sumber daya alam berdasarkan sifat da...

Paling Banyak Dibaca